Pendidikan Edukatif dan Kreatif

Yusrotul Rusda, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan 2018 Setiap orang akan memiliki setiap kebiasaan dalam belajarnya. Tidak bisa satu orang dengan yang lainnya selalu disamakan metode pembelajaranya, sebagus apapun bentuk metode tersebut. Banyak orang yang masih mempunyai mindset bahwa nilai tertinggi dengan predikat A dinyatakan sebagai murid yang hebat, yang pintar. Sedangkan, satu biji nilai C akan benar-benar diremehkan dan dibanding-bandingkan. Padahal, pada kenyataannya suatu pendidikan tidak hanya dilihat dari seberapa banyak ia mendapatkan nilai A dalam lembar evaluasinya, dan juga bukan berarti yang tertera nilai C adalah orang yang boboh, pemalas, dan susah diatur. Stigma itu masih sering kali kita dengar di lingkungan masyarakat yang mana memang biasa kita sadari bahwa lingkungan masyarakat kita masih tergolong taraf sumberdaya manusia yang rendah. Sehingga, setiap anak yang memiliki ciri dan kebiasaan yang berbeda akan lebih susah dan seringkali di anak tirikan apalagi jika diharuskan sama dengan kebanyakan anak lainnya. Continue reading →

Antara Dosen dan Mahasiswa

Rahma Safitri, Fakultas Teknik 2019Skip kuliah ajalah, kuliahnya gitu-gitu aja.” Terkadang mahasiswa merasa bosan untuk kuliah karena kuliahnya monoton. Pembelajaran yang monoton bukan dambaan setiap mahasiswa. Mahasiswa menginginkan pembelajaran yang terasa seru dan menantang. Mahasiswa membutuhkan wadah untuk eksplorasi. Dalam era ini, mahasiswa diberikan kebebasan untuk menuangkan idenya. Ide harus dapat tersalurkan dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya harus menghafal isi buku yang digunakan. Mahasiswa hanya perlu memahaminya. Menghafal belum tentu bisa memahaminya. Dalam buku, terkadang hanya ada satu sudut pandang. Akan tetapi ilmu tidak dapapt dipandang daam satu sutdut pandang. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Mereka memiliki pendapat tentang suatu ilmu. Continue reading →

MAHASISWA: KREATIF DAN EDUKATIF

Indri Iriana Putri, Fakultas Peternakan dan Pertanian 2016Aristotle pernah berkata “The roots of education are bitter, but the fruit is sweet” yang artinya “Akar dari pendidikan itu pahit, tapi buahnya manis”. Sejujurnya, belajar memang terkadang pahit. Bagaimana tidak? Sebagian dari kita mungkin harus menyalakan lampunya sampai lewat jam 12 malam. Sebagian lagi hanya mengulas sedikit, namun seperti sudah terpatri di otak. Percayalah, jam-jam yang dihabiskan untuk belajar tidak akan sia-sia. Bahkan mungkin kita harus mengeluarkan uang, tenaga, pikiran, dan waktu kita untuk belajar. Namun jika hasilnya memuaskan dan sudah paham, seperti tidak ada alasan lagi untuk bermuram bukan Continue reading →

Pendidikan Indonesia Edukatif dan Kreatif? Benarkah?

Hidayatul Illahi Putri, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 2016- Pendidikan, suatu hal kewajiban yang harus dilakukan oleh anak – anak negeri. Pendidikan bertugas memberikan ilmu pada penerus masa depan bangsa. Tapi apakah penerus masa depan bangsa ini menginginkan pendidikan?. Zaman sekarang pendidikan hanya ajang berkompetisi dengan yang lain. Padahal tujuan utama pendidikan adalah menggali ilmu sedalam – dalamnya. Tapi pemikiran orang tua sekarang tidak berkata seperti itu. Asalkan anaknya lulus dan mendapat nilai bagus tidak apa – apa. Namun, apakah mereka tidak berfikir bahwa itu akan menimbulkan pikiran pada anak – anak nya kalau dengan nilai bagus akan membahagiakan orang tua. Ya. Memang dengan nilai bagus bisa, tetapi dengan cara yang wajar pula. Continue reading →

Bangun, Ayo Bangun!

Dinda Nabilah Setyoningtyas, Fakultas Psikologi 2019 Tulisan ini saya awali dengan fakta ironis yang menyebutkan bahwa di tahun 2019 Indonesia menduduki peringkat 59 dari 64 negara berdasarkan tingkat edukasinya, dilansir dalam worldpopulationreview.com. Salah satu profesor dari Harvard University juga melakukan penelitian terhadap tingkat edukasi anak-anak Jakarta dibandingkan dengan negara-negara maju, dan hasilnya menyatakan bahwa untuk mengejar ketertinggalan dibutuhkan wkatu 128 tahun. Lalu, apa kabarnya anak-anak di luar Jakarta yang menurut perhitungan dalam negeri saja masih jauh tertinggal? Continue reading →

Pendidikan; Langkah Awal Menuju Kemajuan

Cakrawala Galang Nusantara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 2019Beberapa hari lalu saya menghadiri sebuah acara talkshow dimana menteri pendidikan Nadiem Makarim menjadi salah satu bintang tamu. Sepanjang acara mengulas bagaimana perjalanan Nadiem bisa dipilih menjadi menteri pendidikan oleh Presiden Jokowi. Salah satu poin pembicaraan yang saya ambil adalah ketika Nadiem berkata, bahwa semua permasalahan di negeri ini seringkali ditimbulkan karena rendahnya kualitas sumber daya manusia. Continue reading →

Memaksa Belajar atau Dipaksa Belajar?

Angga Prayuda, Fakultas Hukum 2019- Mama pernah bercerita, 30 tahun yang lalu dia adalah salah satu murid yang paling berprestasi di sekolahnya. Nilainya tak pernah di bawah 9, rangkingnya tak pernah keluar dari urutan 3 besar. Saya tanya, “Emangnya mama bisa pelajaran apa saja?” Mama saya jawab, “Mama bisa matematika, aljabar itu mama kuasai kurang dari 1 minggu. Bahasa Inggris juga, 16 grammar mama bisa hafal tidak lebih dari 2 minggu, apa lagi fisika, hih. Theorema phytagoras dan teori relativitas, mama jadi tentornya di sekolah!” Jawab mama dengan bangganya. Kemudian Continue reading →

Optimalisasi Peran Pendidikan yang Edukatif serta Kreatif Demi Mempersiapkan Generasi yang Hebat

Aji Darmawan, Fakultas Ekonomika dan Bisnis 2018- Nelson Mandela pernah mengatakan bahwa pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia. Ungkapan ini mengandung arti bahwa pentingnya sebuah pendidikan. Sebagai negara dunia ketiga, pendidikan berperan sangat besar di Indonesia. Bisa kita lihat sendiri bahwa anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk pendidikan yaitu sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) atau sekitar 492,5 triliun. Angka sebesar ini jika tidak di imbangi dengan mutu kualitas para pendidik maka hanya akan menjadi kosa kata dalam kamus ensiklopedia. Lantas bagaimana meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan di Indonesia? Maka jawabannya akan selalu sama, yaitu pendidikan yang edukatif serta kreatif. Continue reading →

SISTEM PENDIDIKAN MEMBUAT SAYA MALAS BELAJAR

Angga Permana, Fakultas Hukum 2019Seperti yang kita ketahui pendidikan adalah hal yang penting bagi tiap-tiap individu. Dengan adanya pendidikan, sebagian orang beranggapan bahwa pendidikan merupakan sarana untuk memperoleh pekerjaan. Oleh karena itu sering kita mendengar ucapan orang tua “Sinau sing nggenah yo le, ndang lulus ndang entuk gawe.” (belajar yang sungguh-sungguh ya nak, cepet lulus cepet dapat kerjaan). Hal tersebut bukanlah sesuatu hal yang salah karena dalam kenyataannya memang beberapa faktor yang menentukan dalam memperoleh pekerjaan adalah jenjang pendidikan seseorang. Dengan adanya pendidikan pula, sebagian orang beranggapan bahwa dengan pendidikan yang semakin tinggi akan meningkatkan harga diri mereka di hadapan orang lain apalagi jika mereka berasal dari lulusan sekolah atau universitas terkenal. Anggapan-anggapan ini terbentuk karena sistem pendidikan kita yang menghendaki demikian. Continue reading →

Masih Relevankah Pendidikan di Indonesia dengan Perkembangan Zaman Saat Ini?

Alifia Nurullita, Sekolah Vokasi PSDKU Rembang 2018Pendidikan bukanlah tujuan utama, melainkan upaya agar tercapainya suatu tujuan. Tetapi masih banyak dari kita yang menyalahartikan, dan menganggap pendidikan sebagai tujuan utama. Pendidikan yang diajarkan di sekolah merupakan faktor yang memengaruhi mindset seseorang. Ketika di sekolah siswa/i dibebankan dengan banyaknya mata pelajaran. Selain itu, siswa/i lebih banyak dibiasakan untuk menghafal, dibandingkan memahami. Hal inilah yang membuat siswa/i menjadi bimbang dalam menentukan minat, dan bakatnya. Alih-alih membuat siswa/i agar berpikir kreatif, dan inovatif, pemerintah pun menciptakan kurikulum 2013. Tetapi dalam penerapannya, kurikulum ini masih mengalami banyak kendala, baik dalam segi sarana, dan prasarana. Maupun kesiapan para pendidik, dan pelajar dalam menerima kurikulum ini. Penerapan kurikulum ini menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat. Continue reading →