Memaksa Belajar atau Dipaksa Belajar?

Angga Prayuda, Fakultas Hukum 2019- Mama pernah bercerita, 30 tahun yang lalu dia adalah salah satu murid yang paling berprestasi di sekolahnya. Nilainya tak pernah di bawah 9, rangkingnya tak pernah keluar dari urutan 3 besar. Saya tanya, “Emangnya mama bisa pelajaran apa saja?” Mama saya jawab, “Mama bisa matematika, aljabar itu mama kuasai kurang dari 1 minggu. Bahasa Inggris juga, 16 grammar mama bisa hafal tidak lebih dari 2 minggu, apa lagi fisika, hih. Theorema phytagoras dan teori relativitas, mama jadi tentornya di sekolah!” Jawab mama dengan bangganya. Kemudian timbul pertanyaan iseng di kepala saya, dengan senyum simpul saya menanyakan, “Kalau dulu mama memang sepintar itu, kenapa mama dulu tidak jadi arsitek saja? Atau insinyur gitu? Mama bisa berhitung dengan luar biasa kayanya.” Mama diam, kemudian mendekati saya sepertinya mau menjelaskan sesuatu yang amat panjang dan lebar. Agaknya saya mempersiapkan telinga saat itu, “Nak, dulu mama bisa menguasai itu semua karena terpaksa.” Kata mama agak tak yakin. Saya protes dengan memotong cerita, “Kok mau-maunya sih walau terpaksa begitu?” Mama tertawa kecil sambil melanjutkan, ”Iya nak, terpaksa. Generasi mama terpaksa menghafal semua rumus yang sudah ditentukan kurikulum dengan harapan semua lulusannya bisa menjadi cendekiawan hebat, tak dipikirkan lagi yang mana bisa A atau siapa bisa B, semua murid diwajibkan bisa semuanya. Tapi anehnya, semua murid bisa atau lebih tepatnya terpaksa bisa saat menghadapi ujian akhir semester yang mama yakin, mereka sama sekali tidak tau datang dari mana rumusnya.” Mama menjelaskan dengan telaten sambil memandang mukaku, “Dulu, kalau mama tidak bisa hafal rumus, ada 2 rotan yang menghinggap di badan mama di 2 tempat berbeda pula.” Saya terkaget, serem amat. ‘Kok lebih kaya penyiksaan ya daripada pembelajaran?’ pikirku bodoh. Mama melanjutkan, “Kalau mama tidak bisa mengerjakan soal saat dipanggil ke depan kelas, mama pasti akan dipukul rotan oleh guru di betis kiri. Saat pulang ke rumah, apabila kakekmu mendapati mama menangis karena dipukul rotan, pasti kakekmu memukulkan rotannya ke betis kanan mama dengan alasan mama tidak pernah belajar makanya dihukum guru di sekolah.” Mama tertawa sambil mengingat masa kecilnya, kurasa. Kemudian mama berdiri dan menatapku lurus, “Nak, itulah bedanya memaksakan untuk belajar dan dipaksakan belajar. Kalau kau memaksakan diri untuk belajar, kau tau apa yang ingin kau capai dan untuk apa pencapaianmu itu. Kau tidak akan bingung untuk apa proses pendidikanmu, kau tidak akan lupa apa yang sudah kau pelajari, kau tidak akan bimbang apabila ditanya tentang ilmumu, karena pada dasarnya kaulah yang memilih jalan itu.” Kemudian mama melanjutkan, “Beda dengan mama yang dipaksakan

belajar, mama dipaksa menghafal aljabar yang tak pernah mama pakai di pasar saat tawar menawar, tak pernah pula mama pakai Bahasa Inggris dengan grammar indahnya saat ada di angkot, pun theorema phytagoras dan teori relativitas, tak pernah sekalipun mama pakai saat mengerjakan berkas laporan di kantor.” Saya mulai mengerti, mama mencoba memberi gambaran tentang konsep pendidikan yang terjadi di masanya saat itu. Paksaan dan hukuman, sukses mengernyitkan dahi bila diceritakan sekarang. “Nak, seseorang tidak seharusnya dipaksa untuk menyukai ataupun pandai dalam suatu hal. Edukasi tidak berfungsi dengan cara seperti itu. Kau harus tau apa yang membuatmu terpaku membaca buku seharian, kau harus tau teori apa yang menggerakkanmu untuk menuang cawan di dalam laboratorium kimia, kau harus tau pendapat ilmuwan mana yang menarik minatmu untuk kau buktikan. Itu baru edukasi, sesuatu yang membuatmu haus akan ilmu dan membangkitkan pikiran penuh dengan kreatifitas. Tidak sekedar dipaksa belajar dan dilepas tanpa tau untuk apa ilmu yang kau pegang.” Kemudian mama kembali duduk menghadapku sambil memegang bahuku dia berkata “Nak, kau tau kenapa tukang cendol semakin berkurang sekarang?” Aku diam, tak tau apa-apa. Sambil sedikit protes, ‘apa hubungannya tukang cendol dengan ilmu dan kreatifitas?’ tapi kemudian saya menjawab “Karena mereka sudah pensiun mungkin?” Mama tersenyum, mengelus kepalaku dan menjelaskan, “Mereka terlalu terpaku di satu keadaan saja nak, mereka merasa pengetahuan mereka tentang membuat cendol sudah cukup untuk menghantarkan mereka pada keuntungan. Padahal, semakin berkembangnya zaman semakin berkembang pula minat dan permintaan. Akhirnya para pembeli malah melipir ke restoran, mengapa?” Aku menyimak sambil tetap berpikir atas pertanyaan-pertanyaan dari mama, “Karena restoran menyediakan banyak varian cendol, dari cendol berbagai warna, gula aren dari berbagai variasi hingga bentuk mangkok dan gelas yang beraneka ragam.” Saya menganga, iya juga ya. Kemudian mama melanjutkan, “Itu yang namanya ilmu pengetahuan dan kreatifitas bertemu nak, mereka berkolaborasi menciptakan serta menerapkan sesuatu bersamaan sehingga tercipta karya yang diperlukan orang banyak.” Mama bangkit berdiri sambil berlalu, mengatakan “Nak, jadilah seorang cendekia yang paham apa makna edukasi sehingga kau tak perlu merasa tertekan saat belajar berbagai macam ilmu. Jadilah artis yang paham cara membolak balikan imajinasi, maka kau tak akan pusing bagaimana ilmu yang kau punya harus kau gunakan.”

Setelah saya renungkan, agaknya saya baru menyadari inti dari obrolan kami saat itu. Bahwa, esensi dari edukasi bukan semata-mata menambah jumlah pengetahuan maupun mencetak angka fantastis di laporan semester. Melainkan, edukasi adalah sumber kehidupan yang dibutuhkan makhluk hidup haus akal; manusia. Edukasi harus bersifat edukatif yang

maksudnya adalah bersifat mengajari, membimbing, mengasah ilmu pengetahuan itu sendiri menjadi sesuatu yang valid dan cocok dalam kehidupan. Pengetahuan yang diemban sudah sepatutnya juga diterapkan demi kemaslahatan orang banyak, bukan? Saat zaman mama saya, orang-orang tidak tau apa yang harus dilakukan dengan ilmu yang dipaksa hadir dalam otaknya. Absennya daya kreatifitas ini menjadi suatu alasan mengapa pemaksaan belajar adalah hal yang sia-sia, tidak berdampak apapun kecuali demi menyandang predikat ‘pandai’. Kreatifitas dan ilmu pengetahuan seharusnya berfungsi interdependen, ilmu pengetahuan tampak nyata karena diterapkan oleh kemampuan kreatif cendekia. Pun juga kreatifitas, hadir karena adanya eksistensi ilmu pengetahuan yang harus ditunjukkan. Pada dasarnya, ilmu pengetahuan benar-benar harus diajarkan secara edukatif hingga hasil akhir dari proses pembelajaran dapat menjadi sesuatu yang bermakna.

Ayo Vote Disini

Click on a star to rate it!

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 377

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *