Optimalisasi Peran Pendidikan yang Edukatif serta Kreatif Demi Mempersiapkan Generasi yang Hebat

Aji Darmawan, Fakultas Ekonomika dan Bisnis 2018- Nelson Mandela pernah mengatakan bahwa pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia. Ungkapan ini mengandung arti bahwa pentingnya sebuah pendidikan. Sebagai negara dunia ketiga, pendidikan berperan sangat besar di Indonesia. Bisa kita lihat sendiri bahwa anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk pendidikan yaitu sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) atau sekitar 492,5 triliun. Angka sebesar ini jika tidak di imbangi dengan mutu kualitas para pendidik maka hanya akan menjadi kosa kata dalam kamus ensiklopedia. Lantas bagaimana meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan di Indonesia? Maka jawabannya akan selalu sama, yaitu pendidikan yang edukatif serta kreatif.

Makna dari pendidikan yang edukatif secara arti sempit yaitu pendidikan yang bersifat mendidik atau mengedukasi, sedangkan secara arti luas yaitu pendidikan yang berkelanjutan, bermutu, serta mempunyai metode tentang pemahaman serta pengajaran yang dapat diterima dengan baik oleh setiap unsur pendidikan itu sendiri. Kita mengetahui bahwa peran serta tenaga pendidik sebagai unsur paling penting dan utama dalam dunia pendidikan untuk saat ini dapat dikatakan kurang. Guru yang seharusnya menjadi nahkoda kapal dalam kelas masih harus berpacu pada target yang ditentukan oleh penggerak kebijakan. Kurikulum yang berubah seiring perubahan pemerintahan membuat pendidikan tergoyahkan.

Peningkatan pendidikan yang edukatif tidak serta merta dilakukan oleh guru saja, namun juga dari pemangku kebijakan untuk terus mendorong serta mengupayakan kebijakan yang terkait demi menyiapkan generasi yang berkualitas. Tingkat interaksi yang rendah antar murid dan guru juga salah satu indikator yang harus dicermati karena merupakan faktor penghambat pendidikan yang edukatif. Peran serta guru untuk mampu menghadapi perubahan atas regulasi juga harus ditingkatkan, pasalnya jika guru tidak siap dengan perubahan pola pendidikan maka dapat berakibat gagalnya pendidikan yang mengedukasi. Sama halnya dari guru kepada murid, sebagai guru ajarkanlah mereka untuk berlatih kepercayaan diri dalam berdiskusi di kelas.

Sudah sepantasnya pelatihan-pelatihan terkait perubahan kebijakan pendidikan yang bersifat edukatif harus lebih dicermati oleh tiap-tiap unsur pendidikan. Dari guru sendiri, saat ini inovasi-inovasi metode pengajaran yang berpola diskusi sudah tercantum dalam kurikulum. Berikan ruang dan waktu kepada para siswa untuk dapat belajar serta mengajar bersama, sebagai contoh diskusi bersama tentang materi terkait ataupun tanya jawab dan dapat pula berbentuk presentasi tentang materi yang akan diajarkan. Dari sisi interaksi dengan murid sendiri, janganlah ciptakan iklim ketegangan yang hanya membuat murid berfokus pada nilai yang tinggi, sehingga apabila mereka mendapat nilai yang tak diharapkan makan akan membuat mereka tertekan.

Pendidikan kreatif sendiri merupakan unsur lain dari pengembangan minat dan bakat serta potensi para siswa. Siswa dalam hal ini diharapkan mampu untuk mengetahui apa minat dan bakatnya, sehingga dapat dikembangkan dalam lingkup pendidikan formal yaitu intrakulikuler ataupun pendidikan non formal dalam hal ini yaitu ekstrakulikuler karena pada dasarnya pendidikan tidak hanya dilakukan di dalam ruangan namun juga dapat di luar ruangan. Dengan demikian para siswa dapan mengetahui gambaran singkat mengenai apa yang akan dikembangkan. Dari guru sendiri, berikanlah waktu kepada para murid untuk dapat menunjukkan potensi yang mereka miliki. Ciptakanlah suasana yang meningkatkan rasa percaya diri pada para murid, sehingga murid mampu mengekspresikan apa yang ingin mereka kembangkan.

Kurikulum pendidikan telah mengupayakan terkait pendidikan yang kreatif sendiri, namun apalah arti sebuah kurikulum jika tak diimbangi dengan kesejahteraan tenaga pendidik. Nasib tenaga pendidik honorer di Indonesia sendiri masih dikatakan kurang sejahtera, pasalnya tenaga honorer sendiri yang memiliki beban besar dalam hal pendidikan yang kreatif sendiri di lingkungan sekolah tak sebanding dengan pamrih yang mereka dapatkan. Tentu ini dapat menjadi masukan pelaku kebijakan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Melalui tulisan ini saya berharap medapatkan dukungan penuh kepada setiap elemen pendidikan. Saya mengetahui bahwa tugas seorang guru memang sangatlah banyak dan berat, tetapi dengan menjadi guru, secara tidak langsung terikat tentang tanggung jawab beban moral yang dihadapi untuk mempersiapkan generasi yang berkualitas. Saran saya yaitu kepada birokrat pembuat kebijakan dalam hal ini kementerian pendidikan ataupun sederajatnya, ciptakanlah suatu sistem yang dapat mengoptimalkan unsur edukatif dan kreatif dalam dunia pendidikan, buatlah kebijakan tambahan terkait jam pelajaran agar siswa mampu lebih reaktif terhadap sistem belajar mengajar sehingga terciptanya pembelajaran dua arah bukan satu arah, yakni dari guru untuk murid serta dari murid untuk murid dan guru. Kemudian kepada guru, tingkatkanlah sikap profesionalitas, informatif, responsif, serta sikap mampu beradaptasi dengan perubahan sistem pendidikan yang ada. Mungkin hanya ini yang dapat saya kemukakan. Pendidikan bukan siapa yang mengajar dan siapa yang diajar juga bukan pula siapa yang membutuhkan dan siapa yang dibutuhkan serta bukan pula hasil dari hari kemarin dan hari ini, namun juga keseluruhan untuk mencapai generasi yang mampu memajukan bangsa Indonesia kelak.

Ayo Vote Disini

Click on a star to rate it!

Average rating 4.2 / 5. Vote count: 37

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *