SISTEM PENDIDIKAN MEMBUAT SAYA MALAS BELAJAR

Angga Permana, Fakultas Hukum 2019Seperti yang kita ketahui pendidikan adalah hal yang penting bagi tiap-tiap individu. Dengan adanya pendidikan, sebagian orang beranggapan bahwa pendidikan merupakan sarana untuk memperoleh pekerjaan. Oleh karena itu sering kita mendengar ucapan orang tua “Sinau sing nggenah yo le, ndang lulus ndang entuk gawe.” (belajar yang sungguh-sungguh ya nak, cepet lulus cepet dapat kerjaan). Hal tersebut bukanlah sesuatu hal yang salah karena dalam kenyataannya memang beberapa faktor yang menentukan dalam memperoleh pekerjaan adalah jenjang pendidikan seseorang. Dengan adanya pendidikan pula, sebagian orang beranggapan bahwa dengan pendidikan yang semakin tinggi akan meningkatkan harga diri mereka di hadapan orang lain apalagi jika mereka berasal dari lulusan sekolah atau universitas terkenal. Anggapan-anggapan ini terbentuk karena sistem pendidikan kita yang menghendaki demikian.

Dalam sistem pendidikan kita yang sekarang agaknya sudah kita ketahui bersama bahwa pokok permasalahannya terdapat dalam orientasi pada nilai mata pelajaran yang berlebihan. Nilai mata pelajaran selalu dianggap sebagai hal yang paling utama karena nilai tiap mata pelajaran tersebutlah yang akan menentukan lulus tidaknya seorang siswa dalam suatu kelas. Hal ini semakin diperparah dengan adanya anggapan orangtua maupun guru bahwa seorang siswa dikatakan pintar apabila menguasai semua mata pelajaran dan mendapat nilai bagus di tiap mata pelajaran tersebut, padahal siswa sebagai seorang manusia pastilah memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pendidikan karakter merupakan hal yang selalu dibicarakan namun selalu dikesampingkan dalam sistem pindidikan kita. Alhasil banyak siswa yang rela mencontek agar mendapat nilai yang bagus, hal inilah yang akhirnya menjadi suatu budaya dalam sistem pendidikan kita dan akan terus dibawa oleh siswa tersebut hingga ke jenjang universitas. Karena nilai bagus yang mengantar kepada kelulusan tersebut menjadi suatu hal yang utama, akhirnya banyak lulusan suatu sekolah yang merasa bangga dengan mendapat nilai tinggi daripada mendapat banyak ilmu.

Hal lain yang menjadi permasalahan lainnya ialah makna “belajar” dalam sistem pendidikan kita yang sering disalahpahami oleh banyak orang baik siswa, guru, kepsek, orangtua, tukang kebun, pedagang asongan dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Contohnya ketika seseorang ayah menyuruh anaknya untuk belajar, maka baik dipikiran anak tersebut atau ayahnya makna belajar adalah duduk dan membaca buku pelajaran. Padahal makna belajar sendiri adalah memperoleh ilmu pengetahuan, berlatih atau merubah tingkah laku yang disebabkan oleh pengalaman. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa ketika seorang anak bermain bola dengan temannya maka ia sedang belajar bagaimana cara bermain bola ataupun ketika seorang anak melihat ada seseorang yang memberi makan kepada orang terlantar di pinggir jalan dan ia mengikuti perbuatan orang tersebut di kemudian hari maka dapat dikatakan bahwa anak tersebut sedang belajar berempati terhadap sesamanya. Dalam hal ini, jika belajar hanya dimaknai sebagai membaca buku pelajaran maka hal tersebut hanya mempersempit makna daripada belajar itu sendiri. Belajar, terutama di sekolah, juga menjadi alasan yang umum agar seseorang mudah mendapat pekerjaan, padahal daripada membebani diri belajar untuk memperoleh kerja alangkah baiknya seorang siswa belajar untuk menemukan passion dan mengembangkan pola pikirnya sendiri. Karena setelah menemukan hal yang demikian itulah seorang siswa akan lebih mudah dan tidak terbebani dalam mendapat pekerjaan.

Belajar di sekolah, bagi sebagian besar siswa merupakan kewajiban dan kewajiban tersebut seolah merupakan suatu hal yang berat dan kurang disukai. Hal ini dikarenakan cara mengajar guru yang monoton, ketidakmampuan seorang guru dalam beradaptasi menggunakan teknologi ataupun fasilitas sekolah yang kurang mendukung. Hal ini menyebabkan beberapa siswa memilih untuk cabut kelas, nongkrong di warung diluar sekolah dan kembali ketika bel pulang sekolah sudah berbunyi daripada harus mengikuti pelajaran yang mereka kurang sukai. Hal ini tentunya berdampak buruk pada kualitas siswa di negara kita.

Berdasarkan Programme for International Student Assessment (PISA) 2015, Indonesia menempati peringkat 62 dari 70 negara yang berpartisipasi dalam tes internasional tersebut. Tes tersebut menandakan bahwa kualitas siswa di Indonesia masih dibawah rata-rata.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas siswa di Indonesia dan menarik minat siswa agar belajar terasa lebih menyenangkan yaitu dengan cara :

  1. Mengubah mindset guru dan siswa yang kuno

Guru sebagai pembimbing siswa ketika di sekolah haruslah memberikan pengajaran yang tentunya dengan cara yang menarik. Apalagi di era teknologi digital seperti sekarang. Memanfaatkan teknologi sebagai sarana pendidikan agaknya merupakan cara yang harus ditempuh untuk menarik minat siswa dan guru haruslah memahami kemampuan tiap-tiap siswa yang berbeda dan mengarahkan mereka sesuai kemampuan mereka masing-masing. Disisi lain siswa haruslah membentuk kerangka berpikir mereka dengan berpikir kritis dan berusaha memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di sekitarnya, bukan hanya mendengarkan apa yang guru ajarkan di kelas. Selain itu tentunya dengan teknologi digital yang semakin berkembang siswa dapat memperoleh ilmu tidak hanya dari guru melainkan juga melalui internet.

  1. Memberikan pendidikan karakter sejak dini

Sekolah seharusnya tidak terlalu membebani siswa dengan banyak pelajaran pada saat siswa duduk di bangku SD, siswa SD yang merupakan anak-anak tentu lebih menyukai bermain daripada belajar di kelas, hal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pelajaran di luar kelas seperti pergi mengamati lingkungan alam sekitar, mengajarkan kepada mereka kebersihan, mengutamakan kejujuran dan hal-hal positif lainnya agar karakter anak tersebut sudah terbentuk dengan baik dari semenjak ia duduk di bangku SD.

  1. Meningkatkan minat membaca

Seperti yang kita tau minat membaca di negara kita masih sangat rendah. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan menyebarkan perpustakaan berjalan dan mengajak anak-anak untuk membaca buku yang ringan seperti komik, buku cerita bergambar atau ensiklopedia bergambar sebagai awalan untuk meningkatkan minat membaca.

Walaupun masih terdapat banyak permasalahan seputar pendidikan, namun belajar tetap dapat dilakukan dengan banyak cara seiring berkembangnya teknologi seperti melalui youtube, bimbel online dan lain sebagainya. Pembelajaran materi yang kreatif tentu harus diimbangi oleh pendidikan karakter pula.

 

Sumber:

https://kbbi.web.id/belajar

https://theconversation.com/kualitas-buruk-pelajar-indonesia-akibat-proses-belajar-ti

dak-tuntas-apa-yang-bisa-dilakukan-97999

https://www.kompasiana.com/www.angkringanwarta.com/55176a4f8133119c689de164/sekolah-bukan-untuk-bekerja

Ayo Vote Disini

Click on a star to rate it!

Average rating 4.1 / 5. Vote count: 18

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *